Jika pembaca sekalian telah paham jalan logika alasan bayi yang meninggal pasti akan masuk Sorga, pasti tidak akan sulit untuk memahami bahwa orang yang hilang ingatan sebelum mencapai umur akil-balik, dan meninggal dalam keadaan demikian, juga pasti akan masuk Sorga. Walaupun di dalam Alkitab tidak kita temukan ayat yang secara teknis menyatakan bahwa orang gila akan masuk Sorga, tetapi melalui pemahaman secara inferensial terhadap beberapa kebenaran yang saling menopang menuntun kita kepada kesimpulan bahwa orang yang hilang ingatan sebelum mencapai umur akil-balik pasti akan masuk Sorga.
Nasib Orang Yang Sakit Jiwa (orang Gila)
Jika
pembaca sekalian telah paham jalan logika alasan bayi yang meninggal
pasti akan masuk Sorga, pasti tidak akan sulit untuk memahami bahwa
orang yang hilang ingatan sebelum mencapai umur akil-balik, dan
meninggal dalam keadaan demikian, juga pasti akan masuk Sorga. Walaupun
di dalam Alkitab tidak kita temukan ayat yang secara teknis menyatakan
bahwa orang gila akan masuk Sorga, tetapi melalui pemahaman secara
inferensial terhadap beberapa kebenaran yang saling menopang menuntun
kita kepada kesimpulan bahwa orang yang hilang ingatan sebelum mencapai
umur akil-balik pasti akan masuk Sorga.
Pertama bahwa dosa seisi
dunia sudah ditanggung Yesus Kristus, yang berarti semua orang telah
menjadi benar di hadapan Allah, kecuali seorang yang setelah memiliki
kesadaran diri dan kemampuan untuk memutuskan perkara rohani dengan
kesadaran dirinya kembali berbuat dosa. Seseorang yang hilang ingatan
sebelum mencapai umur akil balik tidak tergolong ke dalam orang yang
telah memiliki kesadaran diri melakukan dosa karena ia belum pernah
memiliki kesadaran diri. Kondisi orang yang hilang ingatan sebelum
mencapai umur akil-balik adalah seperti seorang bayi. Jika bayi perlu
dibaptiskan agar bisa masuk Sorga maka sepatutnya gereja demikian juga
membaptiskan orang yang telah hilang ingatan agar ia diselamatkan
melalui baptisan. Tetapi jelas itu bertentangan dengan kebenaran karena
firman Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa oleh ketaatan seorang
(Kristus) semua orang telah menjadi orang benar.
Kedua, syarat
utama dan satu-satunya untuk memperoleh keselamatan adalah melalui
pertobatan dan iman yang benar. Rasul Paulus mengargumentasikan mata
rantai proses penyelamatan dari pengutusan hingga orang tersebut percaya
dan berseru kepada nama Tuhan (Roma 10:10-15). Dan pada ayat ke-2 dalam
pasal yang sama Rasul Paulus menekankan iman yang berpengertian. Di
dalam ibadah simbolik lahiriah tidak membutuhkan iman yang
berpengertian. Seseorang hanya perlu mengikuti seluruh rancangan
tata-ibadah lahiriah yang telah ditetapkan.
Ibadah di dalam roh
dan kebenaran menuntut pengertian, karena dalam ibadah tersebut kita
menyembah secara rohani dan secara kebenaran. Menyembah secara Kebenaran
menuntut pemahaman, bukan sekedar ikut-ikutan. Orang yang telah hilang
ingatan tidak bisa beriman secara rohani dan dalam kebenaran. Orang yang
telah hilang ingatan adalah orang yang dikecualikan dalam tuntutan iman
yang disertai pengertian.
Tetapi jika seseorang kehilangan
ingatan pada umur sesudah menjadi akil-balik, maka jika ia meninggal ia
akan masuk Neraka. Peristiwa kehilangan ingatan sesudah akil-balik
adalah peristiwa berakhirnya anugerah baginya. Dapat dikatakan bahwa
saat itu adalah saat ia meninggal secara rohani. Ketika kerohaniannya
meninggal, jasmaninya ternyata masih berfungsi. Perbedaannya dengan
orang normal adalah, orang normal meninggal sekaligus rohani dan
jasmani, namun orang yang kehilangan kesadaran diri telah meninggal
secara rohani namun masih tetap hidup secara jasmani.
Terhadap
orang-orang yang kehilangan ingatan atau gila kita perlu berdoa atau
berusaha secara medis agar ia bisa ingat kembali. Pada saat ia memiliki
ingatan kembali, secepatnya ia diberitakan Injil yang benar agar ia
bertobat dan percaya kepada Sang Juruselamat. Jika seseorang setelah
bertobat dan beriman dengan benar, dan oleh satu dan lain hal ia hilang
ingatan, maka kondisi barunya tidak akan mempengaruhi jaminan
keselamatan yang telah diperolehnya. Misalnya seseorang yang pada masa
mudanya telah bertobat dan percaya dengan segenap hati, bahkan sangat
giat melayani, setelah tua menjadi pikun, bahkan mungkin dalam
kepikunannya ia menyangkali Tuhan. Tindakannya yang dilakukan dengan
tanpa memiliki kesadaran diri tentu tidak mempengaruhi pertobatan dan
imannya yang telah dimilikinya pada saat ia dalam keadaan sadar penuh.
0 Comments:
Posting Komentar